Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Terjemahan Bahasa Indonesia Kitab Nazhom Matan Alfiyyah Ibnu Malik. Semoga bermanfaat bagi kita yang ingin memperdalam pengetahuan tentang Tata Bahasa Arab, Ilmu Nahwu dan Sharaf dari Bait-Bait Alfiah. Sebagai bekal untuk lebih mengenal Aqidah dan Syari’at menurut Agama Islam. kgss7kzeyn9v

بسم الله الرحمن الرحيم

المقدمة

MUQADDIMAH

قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu..

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat. (waktu yg singkat)

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ…

Lihat pos aslinya 1.543 kata lagi

Gambar

Kitab Riyadus Shalihin adalah sebuah kitab yang sangat masyhur dalam dunia Islam. Kitab ini telah dijadikan pegangan selama ratusan tahun bagi para ulama, pelajar dan penuntut ilmu agama di belahan dunia. Di Indonesia sendiri kitab Riyadus Shalihin ini merupakan salah satu ‘kitab wajibbagi seluruh pesantren.

Pengarang kitab Riyadus Shalihin adalah Al Imam Al ‘Alamah al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi’i, beliau dikenal sebagai ulama paling ‘alim pada zamannya, zuhud dan wara’, serta kuat beramal sholeh. Dilahirkan di sebuah desa bernama Nawadekat Damsyik, Suriah pada tahun 631 H. Beliau mulai menuntut ilmu di sebuah sekolah agama milik Habbatullah bin Muhammad Al Anshori yang terkenal dengan sebutan Ibnu Rawahah. Madrasah itu bernama Madrasah Ar Rawahiyyah. Imam Nawawi belajar di Madrasah ini mulai tahun 649 H, saat berusia delapan belas tahun, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Darul Hadits di Madrasah Usruniah. Beliau wafat di desanya sendiri yaitu desa Nawa, Damsyik, Suriah, pada tahun 676 H pada usia 45 tahun. Meskipun beliau belum sempat menikah seumur hidupnya, namun sebagai penghormatan, kaum muslimin tetap menggelarinya ‘Abu Zakaria’, yang menggambarkan seolah-olah beliau pernah memiliki seorang putra.

Riyadus Shalihin yang diartikan sebagai pelatihan orang-orang shalih, dibahas menjadi 19 kitab yang terbagi atas 372 Bab dan menyertakan sebanyak 1900 hadis. Dalam metode penulisannya, Imam Nawawi mengemukakan ayat-ayat Qur’an sebagai dalil utama untuk menguatkan dalil penyokong atas kitab yang akan dibahas, kemudian baru menyertakan dalil-dalil hadis sebagai penjabaran atas bab-bab yang dibahas tersebut.

Di dalam mukaddimah kitabnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa kitabnya itu mengandung hadis-hadis yang beliau kutip dari Kutubussittah (enam kitab utama), yaitu kitab hadis yang paling utama dalam Islam.  Dan secara tegas dikatakan bahwa beliau hanya mengutip hadis-hadis yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur itu. Dengan demikian tidak akan ada satu hadis dho’if pun yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Dalam hal ini, para ulama se-dunia selama ratusan tahun sudah membuktikan kebenaran ucapan Imam Nawawi itu. Selanjutnya, dalam perjalanan sejarah, kitab Riyadus Shalihin terbukti telah berhasil membantu para ulama untuk membentuk murid-murid mereka di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, atau pada majelis-majelis ta’lim di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

Syaikh Muhamamd bin Allan as-Shiddiqi as-Syafi’i al-Asy’ari al-Makki, seorang ulama Hijaz yang wafat pada tahun 1057 H telah pula mensyarahkan kitab Riyadus Shalihin Imam Nawawi ini ke dalam sebuah kitab yang berjudul Dalilul Falihin Li Thariqi Riyadis Shalihin sebanyak 4 jilid tebal. Kitab Syarah Riyadus Shalihin ini juga sangat terkenal di sisi para ulama ahlusssunnah wal jama’ah di dunia Islam, khususnya bagi para ulama dan santri di tanah air Indonesia.

Latar Belakang Pandangan

Imam Nawawi Rahimahullah adalah seorang ulama besar dalam fiqih mazhab Syafi’i yang telah mencapai derajat yang tinggi yaitu mujtahid fatwa. Seluruh pembahasan yang menyentuh masalah fiqih dalam kitab ini pasti selaras dengan tuntunan syariat dalam mazhab Syafi’i pula. Sedangkan dalam pemahaman aqidah, beliau dikenal sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Al Asy’ariyah. Tidak heran jika dalam pembahasan masalah aqidah, beliau selalu berpegang teguh pada mazhab ahlusunnah wal jama’ah yang melatar belakangi pendidikan serta faham beliau semasa hidupnya.

Sebagaimana dimaklumi, akidah ahlussunnah wal jama’ah al Asy’ariyah senantiasa mengamalkan ta’wil atas sifat-sifat Allah yang mutasyabihat kepada sifat-sifat Allah yang muhkamat. Sebagai contoh jika bertemu dengan ungkapan “Tangan Allah”, akan dita’wil menjadi “Kuasa Allah”, “Muka Allah” dita’wil dengan “Zat Allah”. Ini dimaksudkan agar terhindar dari faham Mujassimah, yang menggambarkan seolah-olah Allah punya jasad, mirip dengan makhluk-Nya. Sedangkan ungkapan “Allah Turun” dita’wil menjadi “Allah menurunkan rahmat-Nya”, Allah “duduk” menjadi “Allah berkuasa”, dan lain-lain sebagainya. Beliau menghindari faham yang menyerupakan Allah dengan sifat makhluk  seperti: “duduk”, “naik”, “turun”, ‘bertempat tinggal pada tempat tertentu’, ‘tertawa’, dan lain-lain. Ta’wil yang beliau lakukan ini sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan hadis-hadis shahih yang muhkamat, agar terhindar dari kemiripan dengan faham Musyabbihah, yang memahamkan Allah itu mempunyai sifat mirip dengan makhluk-Nya..

Untuk pembahasan masalah fiqih, yakni yang berkaitan dengan masalah hukum ahkam agama, beliau dengan mantap berpegang teguh kepada mazhab Syafi’i. Itulah mungkin yang menjadi salah satu penyebab kenapa kitab Riyadus Shalihin ini sangat populer di Indonesia, di mana memang hampir seratus persen kaum muslimin Indonesia telah menganut mazhab Syafi’i selama ribuan tahun.

Pembahasan Isi Kitab

Diawali dengan ‘kitab Ikhlas’, beliau membuka dengan manis kitab Riyadus Shalihin itu dengan menyertakan ayat-ayat Qur’an yang mendukung pembahasan kitab ikhlas tersebut. Hampir seluruh isi kitab ini mengandung ruh akan dorongan menghambakan diri kepada Allah serta ‘memupuk’ amal shalih. Mayoritas isi pada kitab-kitab awal adalah mengenai masalah hati dan kebersihan jiwa. Seperti masalah ikhlas niat, taubat, sabar, shiddiq, murraqabah, yaqin, tawakal, istiqamah, mujahadah, hemat, rajin, zuhud, qana’ah, dermawan, tolong-menolong, nasehat, amar ma’ruf-nahi mungkar, amanat, dan menghindari kezaliman.

Pada bagian berikutnya beliau menekankan kepada masalah muamalat mu’asyarah, yaknimasalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia bermasyarakat sebagai makhluk sosial, seperti: mendamaikan manusia, berbelas kasih pada anak yatim, orang miskin, menjaga hak wanita, hak suami dan istri, belanja keluarga, hak-hak tetangga, orang tua, anak dan keluarga, menghormati ulama, kaum kerabat, orang-orang sholeh dan lain-lain.

Pada pembahasan masalah moral dan adab, beliau menekankan juga tentang perihal keadilan, hubungan antara rakyat dan pemimpin, menjaga adab kesopanan terhadap orang hidup maupun orang mati, sampai adab-adab pribadi untuk diamalkan sehari-hari, tidak luput dari pembahasan beliau. Sedemikian lengkapnya, sehingga urusan pribadi umat dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, secara ‘manis’ dan rapi beliau bahas satu persatu.

Dalam masalah syariat, secara panjang lebar beliau membahas pula hukum-hukum dalam berbagai masalah; mulai dari masalah berpakaian, wudhu, sholat-sholat wajib, sholat-sholat sunat, puasa sunat, ziarah kubur, sumpah, jual-beli, dan lain-lain dengan menyertakan adab-adab dan kesempurnaan amal, lengkap dengan fadhilah amal, sehingga tidak monoton  membahas masalah pokok fiqihnya saja. Pembahasan kitab ini diakhiri dengan indah pada  Bab Istighfar, mulai dari dalil perintah beristighfar sampai kelebihan orang-orang yang beristighfar.

Sanjungan dan Kritik

Namun begitu, walau sudah berjuta orang yang menyanjung Imam Nawawi dengan kitab Riyadus Shalihin nya, ternyata ada juga segolongan kecil orang-orang yang mulai mengkritisi kitab beliau. Munculnya kritikan atas Riyadus Shalihin memang terjadi hanya pada sepuluh tahun terakhir ini saja. Kritikan bermula dari seorang ulama di Timur Tengah asal Albania, yang membongkar pasang hadis-hadis terpilih dalam kitab tersebut. Nama ulama itu adalah Muhammad Nashiruddin al Albani. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul Riyadus Shalihin yang katanya ditahqiq oleh jamaah dari ulama-ulama, dan di-takhrij-kan oleh Muhammad Nasiruddin al Albani sendiri. Judul yang ditulis di dalam kitabnya itu adalah Riyadus Shalihin, Jamiul Huquq Mahfuzhoh lil Maktabil Islami, cetakan Maktabul Islami, Beirut.

Dalam kitabnya ini, Albani telah mendhoifkan sebanyak 40 buah hadis, yang kesemuanya telah dinyatakan shahih atau minimal hasan shahih oleh Imam Nawawi. Hasil kutipan beliau dari perawi-perawi kitab yang enam antara lain; Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ke-40 hadis didhoifkan Albani tersebut antara lain: Hadis nomor 67, 201, 292, 347, 363, 378, 413, 486, 490, 524, 583, 589, 601, 717, 736, 794, 802, 834, 894, 895, 896, 917, 951, 954, 1007, 1067, 1393, 1394, 1402, 1501, 1547, 1577, 1585, 1649, 1654, 1679, 1686, 1731, 1863, dan 1882 kesemuanya ada 40 hadis.(Lihat mukaddimah al Albani, halaman 11).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa al Albani dan para pengikutnya secara tegas telah melarang keras mengutip dan mengamalkan hadis-hadis dho’if. Dengan demikian, maka orang-orang yang membaca kitab-kitab mereka akan dikhawatirkan akan terpengaruh, dan mengikuti faham mereka. Muaranya, mereka akan menganggap enteng semua hadis yang dinyatakan dhoif dari kitab Riyadhus Shalihin itu. Sesuatu yang sebenarnya dapat merugikan amalan umat.

Langkah al Albani ini telah diikuti pula oleh ulama-ulama Timur Tengah seperti DR. Musthafa Said al Khin, Muhidin Mistu dan kawan-kawan dengan judul “Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadis Shalihin min Kalami Sayidil Mursalin”, dua jilid tebal. Juga Salim bin Ied al Hilali, salah seorang murid al Albani yang juga mengarang kitab berjudul “Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadis Shalihin”. Kesemua kitab-kitab syarah ini bertaqlid kepada Muhammad Nashiruddin al Albani, baik dalam takhrij hadis maupun dalam metode pensyarahannya.

Dari Timur Tengah, gerakan kritik ini menjalar juga ke Indonesia. Meskipun sampai saat ini belum ada pengikut Albani Indonesia yang berani menampilkan diri sebagai pensyarah kitab, tetapi mereka gigih menterjemahkan kitab-kitab kelompok pengkritik, dan menerbitkannya dalam edisi bahasa Indonesia, antara lain ‘Nudzatul Muttaqin’ diterjemahkan oleh Muhil Dhorir, disunting oleh Abdul Hakim, dan diterbitkan oleh Al-I’tishom tahun 2005. Sedangkan Bahjatul Nazhirin diterjemahkan M. Abdul Ghaffar dan diedit oleh Ustad Mubarak BM Bamuallim Lc, dan diterbitkan oleh Pustaka Imam As Syafi’i. Belakangan Nuzhatul Muttaqin diterbitkan kembali dalam cetakan terbaru yang diterjemahkan oleh Ibnu Sunarto dan Aunurrofiq Sholeh Tamhid, dengan Penerbit Rabbani Press. Cetakan ini menyertakan takhrij hadis oleh Nashiruddin al Albani.

Sementara di dalam pensyarahan isi kitabnya, para pengkritik tanpa malu-malu meninggalkan faham Ahlussunnah wal Jama’ah al Asy’ari dari pembahasannya, bila bertemu dengan masalah-masalah yang menyangkut aqidah terutama yang membahas sifat-sifat Allah. Dengan tegas mereka menuliskan bahwa Allah punya muka, tangan, kaki, duduk di ‘Arasy, naik, turun, bertempat di langit dan lain-lain sebagainya. Hanya saja dengan tambahan kata bahwa sifat-sifat Allah tersebut tidak serupa dengan sikap makhluk-Nya. Jauh bedanya dengan Imam Nawawi dan Syekh Muhammad ‘Allan dalam Dalilul Falihin-nya, yang menta’wilkan sifat-sifat mutasyabihat  kepada sifat-sifat  muhkamat.

Sedangkan dalam pembahasan masalah fiqih, Al Hilali misalnya, dengan tegas mengatakan dalam mukaddimah kitabnya, bahwa beliau tidak mengambil dari sumber kitab fiqih yang ada, (tentu termasuk fiqih madzhab Syafi’i, salah satu dari madzhab yang empat), tetapi langsung mengambil kepada Qur’an dan hadis-hadis yang shahih saja. Tetapi  jika diperlukan, katanya dia akan merujuk pada pendapat Syekh Ibnu Taymiyah dan muridnya Syekh Ibnu Qayyim al Jauziyah, sebagai rujukan utama. Padahal seluruh ulama Indonesia tahu betul bahwa kedua Syekh tersebut adalah pendiri dan guru besar dalam madzhab Salafi, di mana banyak fatwa dan ajarannya tak sejalan dengan keempat madzhab yang ada, terutama madzhab Syafi’i, yang dianut Imam Nawawi dan mayoritas umat Islam Indonesia. Dalam kaidah ilmu, tindakan mensyarahkan kitab seseorang dengan melawan isi dan pemikiran penulis asli, adalah tindakan yang tercela!

Tidak heran bila akhir-akhir ini mulai timbul ‘riak-riak’ kecil di masyarakat dan timbul pertengkaran mengenai amalan mereka yang tiba-tiba dinyatakan dho’if bahkan bid’ah oleh pengikut dan pembaca yang mulai terpengaruh dengan kitab-kitab para pengkritik ini.

Penulis mencoba meneliti kitab yang ditulis oleh Nasiruddin al Albani dan al Hilali kemudian membandingkannya dengan Riyadus Shalihin asli yang dikarang oleh Imam Nawawi, maka ada beberapa hal yang perlu dicermati. Di antaranya, al Albani telah mendhoifkan atas sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim pada nomor 1654. Berlawanan dengan itu, pada  hadis Muslim, nomor hadis 1063, tentang kitab kejadian alam yang memakan masa 7 hari, al Al bani justru membela hadis ini, meskipun matannya, menurut al Baihaqi dan lainnya dinilai ta’arudh (bertentangan) dengan makna ayat Qur’an yang mengatakan kejadian alam itu 6 hari. Al Albani juga memunkarkan hadis nomor 894 yang telah dishahihkan oleh Imam Nawawi.

Namun begitu, ada juga hadis-hadis yang dihasan-shohihkan dalam kitab asli Imam Nawawi justru menurut al Albani dan Al Hilali naik derajat menjadi shahih, di antaranya hadis nomor 521 dan 584.

Penulis mendapati ada juga kekeliruan al Albani dalam penulisan kitabnya, dimana beliau mengatakan  pada mukaddimah kitabnya bahwa hadis nomor 490 adalah dhoif, ternyata di dalam isi kitab, yang dhoif adalah nomor 488, bukan nomor 490. Sebuah keteledoran yang tidak layak terjadi atas seorang sekaliber beliau.

Nampaknya, perjuangan al Albani mendhoifkan 40 hadis dalam kitab Riyadus Shalihin mulai luntur sebelum mencapai waktu satu dasawarsa. Pertama, justru datang dari muridnya sendiri, Salim ‘Ied Al Hilali yang dengan nyata-nyata mengatakan bahwa beberapa hadis yang didhoifkan dalam kitab Riyadus Shalihin ternyata memiliki hadis-hadis penyokong lain yang menyebabkan derajatnya naik menjadi hadis hasan lizatihi atau hadis hasan li ghoirihi.

Belum lagi para ulama pengikut empat mazhab yang mulai bangkit dan memberikan perlawanan atas para pengkritik tersebut. Salah satunya adalah Syaikh Hasan Ali Syaqqaf  asal Suriah, dalam kitabnya Tanaqhudhat al Albani al Wadhihah (Plin-plannya al Albani). Syekh Utsaimin, ulama besar Saudi Arabia, turut juga mengkritik al Albani dalam kitabnya ‘Syarah Aqidah Washithiyah’. Sementara di tanah air, terbit buku berjudul “Membongkar Kebohongan ‘Buku Mantan Kiyai NU Menggugat Shalawat Syirik’” Ditulis oleh LBM Nahdhatul Ulama, Jember, Muhyiddin Abdul Shomad dkk.

Wallahu a’alam bishowab

 

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/pena/diskusi-kitab/88/bedah-kitab-riyadus-shalihin.html

Gambar

Adzan Bukan Hanya Untuk Panggilan Sholat

 

 

 

Permasalahan

Ada beberapa kelompok manusia yang mengatakan bahwa seruan adzan itu hanya khusus untuk memanggil sholat saja, tidak boleh untuk yang lain. Sementara sebahagian kaum muslimin yang lain berpendapat bahwa adzan dapat juga dilakukan pada beberapa hal yang selain panggilan untuk menunaikan sholat fardhu yang lima waktu.

Masalah ini memunculkan kebimbangan dan perdebatan di tengah-tengah umat Islam belakangan ini. Apalagi dengan banyaknya beredar buku-buku dan siaran-siaran da’wah melalui media elektronik yang terkadang agak keras menyerang kaum muslimin yang berbeda faham dari mereka, dengan berbagai cercaan; mulai dari tuduhan pemakaian hadits yang statusnya dhoif, tuduhan sebagai amalan sesat dan bid’ah, bahkan sampai dengan ancaman neraka segala. Dengan demikian maka keresahan umat menjadi semakin meluas dan tajam.

Benarkah seruan adzan itu hanya untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan sholat? Adakah manfaat yang lain di luar itu? Sebagai jawaban atas masalah yang sering ditanyakan kepada kami maka berikut ini adalah kumpulan beberapa dalil dari ayat-ayat Al Qur’an, hadis Nabi, dan Fatwa Ulama tentang kegunaan adzan dalam Islam.

Pengertian Adzan

Berkata Azhari, seorang ahli bahasa Arab, tentang asal kata adzan : adzdzana al muadzdzinu ta’dziinan wa adzaanan yaitu memberitahu manusia akan masuknya waktu sholat. Maka adzan itu diletakkan dalam bentuk isim tetapi berfungsi sebagai mashdar, yang dalam bahasa bahasa Indonesia bermakna panggilan di waktu sholat. (Lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab Imam Nawawi Jilid 4, halaman 121 cetakan Abbaz bin Ahmad al Baz – Makkah Al Mukarromah).

Kegunaan Adzan

1. Memanggil Sholat

Adzan diperintahkan untuk memanggil umat Islam sebagai tanda masuknya waktu sholat.  Hal ini sudah masyhur (terkenal) di kalangan umat Islam dan tidak ada khilaf, perbedaan pendapat  antara kaum muslimin tentang hal ini. Semuanya sepakat dalam hal bahwa adzan digunakan untuk panggilan sholat.

     Dalil-dalil Qur’an tentang ini adalah;

  • Surat al Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
  • Surat al-Maidah ayat 58 : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

     Adapun dalil-dalil hadis tentang hal ini adalah;

  • Dari Abdullah bin Zaid bin Abduh Rabihi radhiyallahu ‘anhu berkata dia, “Manakala Rasulullah telah memerintahkan untuk memakai lonceng yang dibunyikan bagi memanggil manusia untuk berkumpul melaksanakan sholat berjamaah, telah berkeliling kepadaku seorang lelaki yang sedang memegang sebuah lonceng ditangannya, pada saat itu aku sedang tidur (bermimpi). Aku berkata, “Wahai hamba Allah apakah engkau menjual lonceng?” orang itu berkata,” Untuk apa lonceng bagimu?” Aku berkata, “Kami mau memanggil manusia untuk melakukan sholat dengan lonceng itu.” Kemudian orang yang dalam mimpi itu berkata, “ Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada memukul lonceng?” lalu aku menjawab, “iya.” Maka orang itu berkata lagi ucapkan olehmu, “Allahu Akbar 4x ..(dan seterusnya sampai selesai kalimat adzan lengkap – pen). Kemudian orang itu mundur tidak jauh daripadaku dan dia berkata, “Jika engkau telah selesai sholat (sunat) maka ucapkanlah Allahu Akbar 2x ….. (bacaan iqomat sampai selesai – pen). Setelah aku terbangun di subuh hari, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan tentang mimpiku. Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mimpimu adalah mimpi yang benar, Insya Allah.” Maka berdirilah bersama Bilal dan ajarkanlah kepada Bilal tentang mimpimu itu agar Bilal beradzan seperti itu, karena suara Bilal lebih baik dari suaramu. Maka aku berdiri bersama Bilal dan mengajarkan seruan adzan itu secara perlahan sementara Bilal menyerukan suara adzan itu dengan keras. Maka telah mendengar Umar bin Khatab di rumahnya akan seruan adzan Bilal tersebut, kemudian beliau segera keluar dari rumahnya sambil menyandang selendangnya. Umar berkata, ”Demi Allah yang telah mengutus Engkau ya Rasul dengan haq, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku serupa dengan yang dialami Abdullah bin Zaid itu. Maka Rasulullah menjawab, ”Bagi Allah sajalah segala puji .”(HR. Tarmidzi dan Abu Dawud, sanad yang shohih).

 

2.  Adzan dan Iqomat Pada Anak yang Baru Lahir

   Disunnatkan juga mengadzankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan mengiqomatkan anak tersebut pada telinga kirinya, seperti adzan dan iqomat pada sholat 5 waktu. Tidak berbeda perlakuan adzan dan iqomat ini kepada anak laki-laki ataupun anak perempuan. Hal ini disandarkan pada beberapa hadis antara lain;

  • Dari Abi Rofi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah mengadzankan Sayyidina Husain di telinganya pada saat Sayyidina Husain baru dilahirkan oleh Sayyidatuna Fatimah dengan bacaan adzan untuk sholat .” (HR. Ahmad, Abu dawud, Tarmidzi, dishohihkannya).
  • Dari Abi Rofi’ berkata dia, “Aku pernah melihat Nabi melakukan adzan pada telinga Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma.” (HR. Thabrani).
  • “Barangsiapa yang kelahiran seorang anak, lalu anaknya diadzankan pada telinganya yang sebelah kanan serta di iqomatkan pada telinga yang kiri, niscaya tidaklah anak tersebut diganggu oleh Ummu Shibyan (HR. Ibnu Sunni, Imam Haitsami menuliskan riwayat ini pada Majmu’ Az Zawaid, jilid 4,halaman 59). Menurut pensyarah hadis,  Ummu Shibyan adalah jin wanita yang selalu mengganggu dan mengikuti anak-anak bayi. Di Indonesia terkenal dengan sebutan kuntilanak atau kolong wewe.
  • Di dalam kitab Majmu Syarah Muhaddzab, Imam Nawawi meriwayatkan sebuah riwayat yang dikutip dari para ulama Syafi’i, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu pernah melakukan adzan dan iqomat pada anaknya yang baru lahir.

      Dari keterangan ini jelaslah bagi kita bahwa perkataan orang yang selama ini mengatakan amalan mengadzankan anak yang baru lahir hanya disandarkan pada hadits-hadits dhoif belaka, adalah tidak benar sama sekali!

      Selain dua hal tersebut di atas, para ulama Madzhab Syafi’i mengumpulkan dalil-dalil akan adanya manfaat adzan yang lain. Salah satunya saya kutipkan dari kitab Fathul Mu’in karangan Syaikh Zainuddin al Malibari, juga telah  disyarahkan keterangannya dalam I’anatut Thalibin oleh Syaikh Sayyid Abi Bakri Syatho’, jilid 2 halaman 268, cetakan Darul Fikri.

       Dalam kitab Fathul Mu’in itu disebutkan, ”Dan telah disunnatkan juga adzan untuk selain keperluan memanggil sholat, beradzan pada telinga orang yang sedang berduka cita, orang yang ayan (sakit sawan), orang yang sedang marah, orang yang jahat akhlaknya, dan binatang yang liar atau buas, saat ketika terjadi kebakaran, saat ketika jin-jin memperlihatkan rupanya yakni bergolaknya kejahatan jin, dan adzan serta iqomat pada telinga anak yang baru lahir, dan saat orang musafir memulai perjalanan.”

Keterangan;

Sudah umum diketahui bahwa orang yang sedang marah, berakhlak buruk, binatang liar umumnya terpengaruh oleh gangguan syaitan atau jin, maka adzan pada hal-hal demikian itu, menyebabkan syaitan /jin yang mengganggu akan lari sampai terkentut-kentut bila mendengar adzan (H.R. Bukhari Muslim).

Adapun mengadzankan mayat ketika dimasukkan ke dalam kubur adalah masalah khilafiyah; Sebagian ulama mengatakan sunnat dan sebagian lagi mengatakan tidak sunnat. Di antara ulama kita yang berpendapat tidak sunnat mengadzankan mayat adalah Syaikh Ibnu Hajar al Haitami rahimahullahu ta’ala,  namun demikian, tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan bid’ah sesuatu perkara yang statusnya khilafiyah.

 

Wallahu a’lam bisshowab

 

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/sorban/fiqih/59/adzan-bukan-hanya-untuk-panggilan-sholat.html

Gambar

Akhir-akhir ini timbul perdebatan di kalangan umat Islam karena telah beredar sebuah ajaran yang melarang kaum muslimin untuk melakukan puasa sunat di bulan-bulan tertentu, seperti bulan Rajab, bulan Sya’ban dan Dzulhijjah. Tuduhan yang paling berbahaya adalah tuduhan bid’ah dan ancaman neraka atas para pelaku puasa sunat di bulan-bulan tersebut. Keterangan tentang sunatnya puasa di bulan Rajab sudah kami tuliskan dalam website ini dengan judul “Keagungan Bulan Rajab”. Bagi pembaca yang berminat untuk mengetahuinya silakan membacanya.

Puasa di bulan Sya’ban

Para ulama ahlu sunnah wal jama’ah sepakat bahwa melaksanakan ibadah puasa di luar hari yang diharamkan oleh baginda Nabi saw semuanya dihukumkan sunat dan diberi pahala para pelakunya. Khusus melaksanakan ibadah di bulan Sya’ban, sejak awal bulan sampai tanggal 15 bulan Sya’ban, dalam mazhab Imam Syafi’i hukumnya sunat.

Ada sebuah hadis dari Siti Aisyah dari jalan Malik bin Abi Nadhir dari Abi Salamah dari Aisyah yang berbunyi: “Adalah Rasulullah saw senantiasa berpuasa setiap bulannya sampai kami menganggap seolah-olah Nabi saw tidak pernah berbuka puasa (setiap hari berpuasa), dan adalah Rasulullah saw berbuka puasa setiap harinya seolah-olah kami menganggap beliau saw tidak berpuasa sama sekali. Dan tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat beliau berpuasa sunat sebanyak yang beliau saw lakukan di bulan Sya’ban.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain dikatakan: “Adalah Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban sebulan penuh, tetapi kadang-kadang Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban sedikit hari saja yang tersisa, (yakni hampir penuh).” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas jelaslah bahwa nabi Muhammad saw melakukan puasa di bulan Sya’ban dengan jumlah hari yang sangat banyak, jauh lebih banyak dibandingkan bulan yang lain.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa puasa terbanyak yang dilakukan oleh nabi di bulan Sya’ban itu adalah selama dua tahun saja, yakni ketika puasa ramadhan belum di wajibkan oleh Allah azza atas umat ini.

Adapun berpuasa setelah lewat tanggal 15 Sya’ban (lewat daripada Nisfu’ Sya’ban) umat Islam dilarang melakukan puasa pada saat-saat tersebut. Artinya, berpuasa pada separuh akhir bulan Sya’ban dilarang oleh nabi saw. Pelarangan ini, dalam mazhab Syafi’i, adalah pelarangan yang makruh hukumnya. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw yang berbunyi: “Jika bulan Sya’ban tertinggal bersisa separuh lagi, maka janganlah kamu berpuasa.” (HR. Turmidzi, Hasan Shahih).

Khusus untuk akhir Sya’ban yaitu pada tanggal 29 Sya’ban di mana kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan ru’yatul hilal (melihat bulan awal Ramadhan), atau pada tanggal 30 Sya’ban, di mana kaum muslimin melakukan istikmal, yakni menggenapkan Sya’ban 30 hari sebab tidak dapat melihat hilal, umat Islam dilarang berpuasa juga. Larangan ini terdapat dalam beberapa hadis. Antara lain, hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw telah bersabda: ”Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan itu, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa sunat, maka orang itu boleh meneruskan kebiasaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan, berpuasalah kamu jika telah melihat Hilal Ramadhan, dan ber-Hari Rayalah kamu jika telah melihat Hilal bulan Syawal. Dan jika hilal terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah puasamu menjadi 30 hari.” (HR. Turmidzi)

Hadis yang paling keras pelarangannya dalam hal puasa di akhir Sya’ban adalah hadis yang diriwayatkan dari Amr bin Yasir dia berkata: “Siapa yang puasa pada hari ragu-ragu (akhir Sya’ban), maka orang tersebut telah bermaksiat kepada Abul Qasim, Nabi Muhammad. (HR. Turmidzi dan Abu Dawud). Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama madzhab Syafi’i mengharamkan puasa pada akhir Sya’ban itu.

Dari hadis-hadis di atas jelaslah bahwa berpuasa di bulan Sya’ban hukumnya sunat. Apalagi telah datang keterangan dari nabi saw kita bahwa pada bulan Sya’ban inilah amal-amal kaum muslimin selama setahun dilaporkan kepada Allah. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih). Dengan demikian melarang orang melakukan puasa di bulan Sya’ban ini justru tidak ada dasarnya sama sekali.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab bahwa Nabi saw pernah berpuasa sehari di awal Sya’ban, dan sehari pada Nisfu’ Sya’ban dan sehari pada akhir bulan Sya’ban. Sehingga tidak pernah sunyi diri Nabi saw dari melakukan ibadah puasadi bulan ini . Akan tetapi puasa seperti ini ( yakni 3 hari di awal, di tengah dan di akhir Sya’ban) hanya beliau lakukan dalam dua tahun saja (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Bab Puasa Sunat, Jilid VII, halaman 654).

Belakangan, Nabi saw melarang puasa pada separuh akhir bulan Sya’ban, seperti yang dijelaskan pada hadis hadis di atas.  Namun, hal  itu tidak berarti puasa pada satu hari awal Sya’ban serta sehari di pertengahannya menjadi haram hukumnya! Bukankah yang dilarang oleh nabi saw hanya pada pertengan akhir dari bulan Sya’ban….?

Catatan:

Di banyak negeri pada malam Nisfu’ Sya’ban dan keesokkan harinya, digalakkan untuk banyak beramal sunat mengingat pentingnya hari tersebut, kemudian mengisinya dengan ibadah puasa keesokkan harinya. Hal ini bagaimanapun hukumnya sunat belaka.  Sangat mustahil melarang orang memperbanyak dzikir pada malam Nisfu’ Sya’ban. Bukankah perintah berdzikir yang banyak itu terdapat pada banyak ayat al qur’an dan hadis-hadis Nabi saw yang shahih, tanpa menetapkan waktunya? Artinya, kapan saja berdzikir itu sunat hukumnya, dan tidak boleh dilarang…..!

Ada orang yang mengisi malam Nisfu Sya’ban itu dengan shalat-shalat sunat serta tilawat al Qur’an yang banyak. Hal seperti ini pastilah baik. Sangat mustahil mengatakan bahwa berdzikir, shalat sunat, tilawat al Qur’an, dan berdoa semuanya itu bagus dan hukumnya sunat kapan saja dilakukan, kecuali pada malam Nisfu’ Sya’ban dan keesokan harinya.  Semua amal tersebut akan berubah menjadi haram dan para pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka…….

Betapa anehnya pendapat itu……..

Betapa tidak……!  Suatu amal yang hukumnya semula sunat, mendadak berubah menjadi haram karena dilakukan pada malam tertentu, malam yang mereka benci…!. Seolah-olah agama Islam itu agama yang penuh jebakan, jika beda hari beramal sunat,  akan berobah menjadi ancaman masuk neraka…..! Alangkah mengerikannya Agama Islam jika begini…?

Kita tidak mengerti maksud segelintir orang yang mati-matian melarang kaum muslimin menyibukkan diri dengan ibadah di malam Nisfu’ Sya’ban. Apakah mereka lebih senang melihat kaum muslimin pada malam tersebut sibuk dalam kelalaian dan sibuk dengan maksiat……..!

Dalam mazhab Syafi’i semua amalan sunat akan tetap hukumnya sunat kecuali ada pelarangan khusus. Contohnya, semua sholat sunat hukumnya sunat kecuali dilakukan ketika selesai shalat ashar dan shubuh dan saat matahari tengah  terbit atau tengah terbenam. Kenapa…..? jawabnya tidak lain karena ada larangan dari nabi saw.

Membaca al Qur’an hukumnya sunat kecuali saat sedang ruku’ dan sujud dalam shalat. Kenapa…..? jawabnya karena ada larangan dari nabi saw.

Berdzikir hukumnya sunat, kecuali ketika sedang buang air besar dan bersetubuh. Kenapa……? Karena ada larangan…….!

Nah, semua amalan sunat hanya bisa berubah hukumnya menjadi makruh atau haram hanya jika ada larangan dari Nabi saw.. Jika tidak ada larangan maka hukumnya tidak berubah. Hal ini perlu dipahami oleh segelintir orang yang rajin menuduh bid’ah kaum muslimin di luar kelompok mereka.

Wallahu A’lam Bishshawab

 

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/sorban/fiqih/139/puasa-di-bulan-syaban.html

Gambar

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Pada zaman sahabat dahulu, mereka terbiasa memanggil Nabi dengan sebutan yang sederajat seperti memanggil kawan-kawan mereka. Panggilan yang paling popular adalah ‘Ya Muhammad, Ya Ibnu Abdullah, Ya Muhammad bin Abdullah, dan Ya Abal Qosim’ (Wahai bapak Al Qosim, menunjuk kepada putera Nabi yang tertua bernama Al Qosim). Kebiasaan memanggil nama sederajat seperti panggilan sesama teman, kemudian dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Panggilan yang diperbolehkan adalah menyertakan pangkat yang layak untuk Nabi seperti: ‘Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah’. (Lihat surat An Nur ayat 63 dalam Tafsir Ibnu Katsir, cetakan Darul Hadist, Qohirah, Mesir jilid VI, halaman 100).

Dalam tafsir Ibnu Katsir tersebut, Muqotil bin Hayyan mengatakan tentang tafsir ayat ini: “Janganlah engkau menyebut nama Nabi Muhammad jika memanggil Beliau dengan ucapan: ‘Ya Muhammad’ dan janganlah kalian katakan: ‘Wahai anak Abdullah’, akan tetapi Agungkanlah Beliau dan panggillah oleh kamu: ‘Ya Nabiyallah, Ya Rasulullah’.”

Imam Maliki, dari Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang arti surah An Nur ayat 63 di atas: “Telah memerintahkan Allah kepada sahabat Nabi dan kaum muslimin agar mengagungkan dan memuliakan Nabi.”

Berkata Ad Dahhak dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat diatas: “Dahulu para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan ‘Ya Muhammad, Ya Abal Qosim’, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang mereka dari panggilan seperti itu demi mengagungkan Nabi-Nya. Maka para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan ‘Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah.” Pendapat ini juga dipegang oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu.”

Setelah larangan Allah tersebut diturunkan, maka serentak seluruh sahabat Nabi meninggalkan cara menyebut atau memanggil nama Nabi seperti memanggil teman biasa, dan mereka mengubahnya menjadi ‘panggilan kehormatan’, sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat An Nur ayat 63 tersebut: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)..

Meskipun keterangan di atas sudah terang dan jelas, kenyataannya di zaman modern ini, masih ada juga sekelompok orang yang sudah dianggap golongan ‘intelektual Islam’ berani dengan lancar tanpa merasa bersalah menyebut dan memanggil nama Nabi tanpa gelar kehormatan. Entah karena terlalu sering membaca buku-buku karangan orang-orang Orientalis yang memang tidak menaruh rasa hormat kepada Rasulullah atau karena malas berpanjang-panjang menyebutkan nama Nabi bersama dengan ‘gelar kebesaran’ beliau. Apalagi jika mesti menambahkan ucapan ‘Shallallahu ‘Alaihi Wasallam’ setelah menyebut nama Nabi. Padahal, semua ini sudah diperintah Allah dan RasulNya untuk diamalkan.

Adapun jika mereka dianggap tidak tahu tentang larangan pada surat An Nur ayat 63 tersebut di atas, rasanya agak sulit diterima akal, sebab mereka dikenal sebagai orang yang tergolong intelektual, bukan golongan orang-orang awam apalagi orang-orang jahil (bodoh).

Dengan melihat kenyataan ini, rasanya setiap individu muslim wajib saling ingat-mengingatkan terhadap sesama saudara kita yang mulai rajin memanggil Nabi sedemikian itu. Jika tidak demikian, maka akan semakin banyak jumlah orang yang memanggil Nabi dengan panggilan rendahan itu. Apakah pantas kita umat Islam yang mengaku pengikut Qur’an dan Sunnah kemudian memanggil Nabi kita dengan panggilan “Muhammad” saja tanpa gelar…? Sementara memanggil seorang Ketua RT saja kita menyebut Pak RT. Apalagi memanggil seorang Presiden, orang akan melekatkan bermacam-macam gelar kehormatan dan kemuliaan! Nah, bagaimana dengan memanggil seorang Rasul yang merupakan semulia-mulia makhluk ciptaan Allah….?

Rasul telah bersabda dalam hadisnya yang masyhur: “orang yang kikir adalah orang yang tidak mau bersholawat kepadaku ketika namaku disebut di dekatnya.” Sementara Allah sendiri di dalam Al Qur’an yang suci senantiasa bersholawat dengan meletakkan pangkat kebesaran Nabi ketika Allah menyebutkan nama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Selain kebiasaan memanggil Nabi dengan ‘panggilan rendahan’ itu, akhir-akhir ini beredar juga sebuah ajaran baru yang mengatakan bahwa menyebut atau memanggil nama Nabi dengan memakai ‘gelar’ di dalam lafazh sholawat adalah suatu perbuatan bid’ah. Dan mereka dimana-mana secara tegas mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat dan akan dicampakkan ke dalam neraka. Oleh karena itu mereka mengatakan bersholawat kepada Nabi cukup dengan ucapan, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad” saja tanpa gelar-gelar yang menunjukkan kebesaran Nabi. Padahal kalau Sholawat ini diterjemahkan  dalam bahasa Indonesia, artinya adalah: “Ya Allah berilah rahmat kepada si Muhammad dan Keluarga si Muhammad“. Kurang beradab, bukan…..? Alasan mereka bershalawat seperti itu karena tidak ada didapati sepotong hadis pun dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengajarkan bersholawat dengan menyertakan ‘gelar’ pada nama Nabi

Benarkah demikian adanya…?

Kami mencoba meneliti beberapa potong hadis dari beberapa kitab hadis dan alhamdulillah kami menemukannya. Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tentang sholawat yang memakai gelar saat menyebut nama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

  1. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra.hu dia berkata, kami pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tetapi bagaimanakah cara kami bersholawat kepadamu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Ucapkanlah oleh kamu sekalian, “Allahumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rasulika kama shollaita ‘ala Ibrohim..( Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada Ibrohim..).” (Hadis Riwayat Bukhari, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam no.6358).
  2. Dari Abu Hurairah ra.hu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau telah bersabda, “Barangsiapa ingin pahalanya ditimbang dengan timbangan yang lebih berat dan sempurna ketika bersholawat atas kami, dan bersholawat atas ahli bait kami, hendaklah orang itu mengucapkan sholawat seperti ini: “Allahumma sholli ‘ala Muhammadinin Nabiyyi wa azwajihi ummahatil mu’miniina wadzuriyyatihi wa ahli baitihi kama shollayta ‘ala ali Ibrohim innaka hamiidun majid” (Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad sang Nabi itu, juga kepada isteri-isterinya sebagai ibu-ibunya orang mu’min, kepada keturunan beliau dan keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).” (Hadis Riwayat Abu Dawud, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Sholat Setelah Tasyahhud, nomor 982).

Keterangan dua hadis di atas cukup untuk menjadi bukti bagi kita bahwa bersholawat dengan menyertakan pangkat ketika menyebut nama Nabi adalah sebuah perbuatan yang sunnah, bukan bid’ah, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh segelintir orang di kalangan ummat Islam selama ini. Justru sholawat dengan memakai gelar telah diperintahkan oleh Nabi dalam hadis-hadis shohih, bahkan telah menjadi amalan para Sahabat, dan generasi Salafus Sholih.   

Wallahu a’lam bishshowab

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/sorban/fiqih/75/sholawat-kepada-nabi-dengan-cara-yang-beradab.html

Gambar

Para ulama sedunia telah sepakat bahwa sunnat hukumnya bagi kaum muslimin untuk melakukan dzikir setelah selesai sholat fardhu lima waktu. Bahkan, juga disunnatkan membaca dzikir-dzikir setelah selesai melakukan sholat-sholat sunnat. Ada banyak sekali hadis-hadis Nabi yang shahih berkenaan dengan dzikir setelah selesai melaksanakan sholat. Sedangkan lafazh-lafazh (bacaan-bacaan) dzikir yang diajarkan pun berbeda-beda satu dengan lainnya.

Dalil yang masyhur tentang dzikir dan doa setelah selesai sholat adalah hadis dari Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Telah ditanyai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Kapankah doa didengar (dimustajabkan) oleh Allah?” Rasul menjawab: “Doa yang dilakukan di tengah malam dan setelah selesai melaksanakan sholat fardhu lima waktu (Hadis Riwayat Imam Turmidzi, hasan shahih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menunjukkan kepada kita bahwa dzikir setelah selesai sholat itu sunnat hukumnya dan dilakukan dengan mengeraskan suara. Nabi dan para Sahabat melakukan dzikir dengan suara keras ini pada zaman Nabi masih hidup. Dengan demikian tuduhan bahwa berdzikir dengan suara keras adalah perbuatan bid’ah sama sekali tidak ada dasarnya. Malah perbuatan yang sunnah adalah mengeraskan suara saat berdzikir setelah selesai sholat lima waktu itu.

Ada juga sebahagian kecil kaum muslimin yang mengatakan bahwa jika selesai sholat fardhu orang-orang melakukan dzikir bersuara, maka hal ini akan mengganggu kekhusyu’an orang-orang yang ingin melaksanakan sholat sunnat. Perkataan mereka itu hanya pendapat akal semata, dan tidak ada landasan hadisnya sama sekali. Sayangnya, meskipun hanya berdasarkan pendapat akal saja, mereka berani  melarang orang untuk berdzikir dengan bersuara keras di masjid-masjid. Padahal kalau dilihat pada hadis Nabi, melarang orang melakukan dzikir dengan bersuara di masjid justru merupakan perbuatan yang melanggar sunnah Nabi, karena tidak didapati sepotong hadis pun yang Nabi melarang umat melakukan dzikir bersuara itu.

Perkataan mereka yang mengatakan dzikir itu mengganggu orang sholat sunnat juga keliru, sebab Nabi telah mengajarkan agar setelah selesai sholat fardhu, afdholnya kaum muslimin berdzikir terlebih dahulu, bukan langsung buru-buru melakukan sholat sunnat tanpa berdzikir terlebih dahulu. Tegasnya, dzikir setelah selesai sholat adalah perintah Nabi! Lantas bagaimana perbuatan yang hanya didasarkan pada pendapat akal dapat diterima, sampai dipakai pula untuk tmenggusur sunnah  Nabi yang ada dalam hadis-hadis shahih…..?

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menceritakan sebuah hadis yang shahih. Hadis itu berbunyi, “Kami mengetahui Nabi dan para Sahabatnya telah selesai mengerjakan sholat fardhu di masjid dengan mendengar suara takbir mereka……”(Hadis Riwayat Bukhari Muslim). Dalam hadis yang lain, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Adalah berdzikir dengan mengeraskan suara setelah selesai mengerjakan sholat fardhu telah dilakukan pada zaman  Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan aku mengetahui mereka telah selesai mengerjakan sholat fardhu itu karena mendengar suara dzikirnya itu.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim, Lihat kitab Al Adzkar Imam Nawawi, halaman 77).

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar suara Nabi dan Sahabat berdzikir sampai terdengar ke rumah beliau tentu karena suara dzikir itu keras. Jika dzikirnya tidak bersuara, bagaimana mungkin beliau mendengar suara dzikir tersebut? Saat mendengarkan suara dzikir Nabi dan para Sahabat, diyakini Abdullah bin Abbas saat itu masih kecil dan belum ikut sholat berjama’ah ke Masjid Nabawi.

Keterangan dalil berdzikir bersuara ini telah dibahas secara panjang lebar oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, dalam Kitab Fathul Bari, Syarah Hadis Bukhari, Jilid II, halaman 591-610. Dan seorang ulama salafy, Syekh Utsaimin pun sudah mengakui sunnah hukumnya berdzikir bersuara itu dalam kitab Ensiklopedi Bid’ah. Namun, meskipun demikian, jika ada yang mau mengerjakan dzikir itu tanpa bersuara, menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah masih merupakan amalan sunnah juga.

Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa hidup beliau, antara lain:

  1. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah beristighfar (membaca astaghfirullahal ‘azhim) tiga kali setiap selesai sholat. Kemudian Nabi membaca doa, “Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzaljalali wal Ikram.” (Ya Allah Engkaulah Assalam, dan dari Engkaulah segala Keselamatan, Maha Mulia Engkau Wahai Yang Memiliki Keperkasaan dan Kemuliaan). (Hadis Riwayat Imam Muslim).
  2. Dari Al Harits at Tamimi radhiyallahu ‘anhu adalah Rasulullah telah mengajarkan kepadanya secara diam-diam (berbisik): “Apabila engkau telah selesai mengerjakan sholat magrib, maka bacalah olehmu, “Allahumma ajjirni minannaar” (Ya Allah selamatkan aku daripada azab neraka) sebanyak 7 kali, karena apabila engkau mati pada malam itu ketika engkau telah membaca doa tadi, maka wajib atasmu apa yang kau minta itu. Apabila engkau selesai sholat subuh maka bacalah doa yang sama sebanyak 7 kali, karena sesungguhnya jika engkau mati di siang harinya, maka wajiblah atasmu apa yang engkau minta (yakni kebebasan dari neraka).” (Hadis Riwayat Muslim dan Abu Dawud).
  3. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila telah selesai mengerjakan sholat dan memberi salam maka Beliau berdoa: “Laa ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahulmulku wa lahulhamdu wahuwa ‘ala kulli sya-in qadir.” (Tiada Tuhan yang disembah selain Allah, Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan, dan bagiNyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa). (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Tetapi ada tambahan kalimat yuhyi wa yumit (Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan), setelah kata wa lahulhamdu. Bacaan ini sudah biasa diamalkan oleh kaum muslimin di Indonesia selama ratusan tahun pula. Amalan dan tambahan kalimat itu dikutip dari Hadis Riwayat Imam Turmudzi, Hasan Shohih. Hal ini penting kami tuliskan karena ada segelintir umat Islam yang rajin menuduh bid’ah kepada orang yang menambahkan kalimat  yuhyi wa yumit itu, padahal sebenarnya tambahan kalimat ini justru sunnah Nabi, bukan bid’ah!
  4. Kemudian Nabi membaca doa: “Allahumma laa mani’a lima a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’ul jad minkal jad.” (Ya Allah,tiada yang dapat mencegah akan apa yang telah Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi akan apa yang telah Engkau cegah. Dan tidak memberi manfaa orang yang memiliki kesungguhan, karena kesungguhan adalah dari Engkau. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
  5. Kemudian Nabi juga ada membaca doa: ”La hawla wala quwwata illa billahi, la ilaha illah wa la na’budu illa iyyahu, lahunni’matul walfadhlu walahutstsina-ul hasanu, La ilaha illah mukhlishina lahuddina, walaukarihal kafirun.” (Hadis Riwayat Muslim). Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi menyuarakan takbir ini setiap selesai sholat lima waktu. Ini juga merupakan salah satu lagi dalil berdzikir bersuara (jahar) setelah sholat fardhu. (Lihat Al-Adzkar, Imam Nawawi halaman 77).
  6. Rasulullah ada mengajarkan para shahabat yang miskin-miskin untuk melakukan dzikir setelah sholat fardhu: “Ucapkanlah olehmu, “Subhanallah, Alhamdulillah, dan  Allahu Akbar setelah selesai sholat fardhu sebanyak 33 kali”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Hadis ini lebih dijelaskan lagi dalam syarah hadis Abu Sholih yakni orang yang meriwayatkan hadis ini langsung dari Abu Hurairah bahwa cara mengerjakannya adalah sekaligus digabungkan/disatukan seperti ini: “Subhanallah…walhamdulillah…wallahu Akbar…semuanya total berjumlah 33 kali. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi telah bersabda: “Senantiasa tidak kecewa orang yang membaca dzikir setelah sholat fardhu dengan kalimat;  Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.” (Hadis Riwayat Muslim). Dzikir ini dibuat secara terpisah, tidak bergabung menjadi satu seperti amalan hadis yang sebelumnya.” Meskipun cara ini sedikit berbeda, namun tetap sunnah dan telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam hadis yang lain dikatakan setelah membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, maka hendaklah disempurnakan menjadi seratus kali dengan kalimat, ; “La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir”. Maka siapa yang melakukan hal ini akan diampunkan Allah seluruh dosa-dosanya walau dosanya sebanyak buih di lautan. (Hadis Riwayat Muslim).
  7. Dan diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah berkata dia: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika telah selesai mengerjakan sholatnya, maka Beliau mengusap keningnya dengan tangan kanannya kemudian beliau membaca, “Asyhadu anlaa ilaaha illallah, arrahmaanurrahim, Allahummadz hib ‘annil hamma wal hazan.” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani, Ya Allah buanglah daripadaku kegunda-gulanaan dan kesedihan).
  8. Dan diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam kitab Sunan Abu Dawud dan Nasai dari Mu’adz bin radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memegang tanganku seraya Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Kemudian Beliau menyambung ucapannya lagi, “Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau meninggalkan bacaan dzikir ini setelah selesai melakukan sholat. Ucapkanlah olehmu, “Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.” (Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingatMu dan bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya).

 

Wallahu A’lam Bishshowab

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/sorban/fiqih/77/sunnah-dzikir-setelah-sholat.html

Gambar

Shaf, adalah barisan kaum muslimin dalam sholat berjamaah. Salah satu kesempurnaan sholat berjama’ah adalah tergantung pada kesempurnaan shaf. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamsangat menganjurkan serta menjaga kerapian dan kesempurnaan shaf. Sedemikian pentingnya hal ini sehingga beliau tidak akan memulai sholat jama’ah jika shaf-shaf para shahabat Radhiyallahu ‘Anhu belum tersusun rapi terlebih dahulu.

Dalam sebuah hadis dari Bara’ bin Azib Ra., dia telah berkata: “Rasulullah biasa meneliti celah-celah shaf dari satu sisi ke sisi lainnya. Beliau mengusap dada-dada dan bahu-bahu kami seraya bersabda: “Janganlah kamu berselisih karena hal itu dapat menyebabkan hati kamu berselisih juga. Dan beliau bersabda lagi: “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla dan para malaikat-Nya memberikan rahmat kepada shaf-shaf yang paling depan” (HR. Imam Abu Dawud).

Dari keterangan hadis di atas teranglah bagi kita bahwa merapikan shaf itu dengan merapatkan bahu, yakni menghilangkan celah-celah antara bahu dengan bahu, sehingga rapat satu dengan yang lainnya seumpama tembok yang kokoh.

Hari ini, ada segelintir umat Islam yang berfaham bahwa merapikan shaf adalah dengan merapatkan kaki-kaki, dan bukan bahu. Untuk itu, mereka mengangkangkan kaki-kaki mereka lebar-lebar agar mata kaki mereka merapat satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak pernah diajarkan nabi kepada kita. Tidak ada dikatakan di dalam hadis bahwa  sebelum memulai sholat berjama’ah, nabi memeriksa shaf-shaf seraya mengusap-usap tumit dan mata kaki para shahabat. Tetapi yang ada di dalam hadis-hadis adalah nabi mengusap dan meratakan bahu serta dada para shahabat, bukan tumit dan bukan pula mata kaki!  

Dalam kenyataannya, jika posisi kaki yang dilebarkan,  kemudian dirapatkan antara sesama mata kaki, maka menjadi rengganglah bahu-bahu para jama’ah antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian menjadi berselisihlah para individu yang ada dalam shaf-shaf  itu satu dengan lainnya.  Hal ini justru sangat dilarang oleh nabi Muhammad junjungan kita itu.

Dalam satu hadis yang lain Rasulullah bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kamu dan sejajarkanlah bahu-bahu kamu, bersikap lemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kamu, serta rapatkanlah celah-celah yang kosong, karena sesungguhnya syaitan menyusup di antara kamu seperti seekor anak kambing kecil” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Keterangan hadis di atas sangat nyata bagi kita bahwa menyempurnakan shaf adalah dengan meluruskan dan merapatkan bahu serta menutup celah-celah yang terbuka. Para ulama mengajarkan kepada kita agar shaf menjadi rapat dan sempurna, maka kaki tidak boleh dibuka lebar-lebar, karena dapat menyebabkan renggangnya bahu. Yang paling baik adalah dengan membuka kaki sekitar satu jengkal saja. Dengan demikian lebar kaki akan sejajar dengan lebar bahu, sehingga dengan demikian menjadi rapatlah kaki-kaki jama’ah sebagaimana rapatnya bahu-bahu mereka.

Imam ‘Aini dalam kitabnya Sarah Sunan Abu Dawud, Jilid III, halaman 217,  menjelaskan sabda nabi: “Bersikap lemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kamu”. Maksudnya adalah bila seseorang datang dan masuk ke dalam shaf sebaiknya masing-masing orang melembutkan dan melenturkan kedua bahunya sehingga orang yang baru masuk ke dalam shaf tersebut dapat dengan mudah dan nyaman mengikuti sholat berjama’ah.

Keterangan di atas membuktikan bahwa sholat berjama’ah itu dilakukan dengan lembut dan lentur tidak berdiri kokoh kaku dan tegap seperti robot besi. Perilaku sholat seperti ini buruk adanya. Dan, tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini sudah terlihat banyak juga orang yang sholat seperti robot itu, tegak, kaku, keras dengan kaki mengangkang lebar. Semoga Allah menunjuki mereka……. Amin…….!

Selanjutnya,  ada banyak hadis nabi yang memerintahkan kita untuk merebut shaf pertama karena besarnya rahmat Allah yang tercurah pada shaf pertama dalam sholat berjama’ah. Di antaranya hadis dari Irbath bin Syariah Radhiyallahu ‘Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa berdoa memohonkan ampun untuk shaf pertama sebanyak tiga kali, dan untuk shaf kedua, beliau memohonkan ampun sebanyak satu kali saja(HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Thabrani).

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf yang pertama dan shaf yang terburuk bagi laki-laki adalah yang terakhir, sedangkan bagi perempuan shaf yang terbaik adalah shaf yang terakhir, dan yang paling buruk bagi perempuan adalah shaf yang pertama.” (H.R. Muslim, Bab Meluruskan Shaf, nomor 985).

Dalam sholat berjamaah sangat penting untuk menjaga agar shaf tidak terputus. Dengan demikian jika ada celah yang merenggang ketika sholat berjama’ah sedang berlangsung,  disunnahkan bagi kita untuk bergeser sedikit untuk merapatkan shaf yang merenggang itu. Bergeser merapatkan shaf adalah mengarah ke tengah tempat imam berdiri. Orang yang melakukan amalan untuk menutup celah yang muncul saat shalat berjama’ah akan diberi pahala dan diberi rahmat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sesuai dengan sabda nabi: “Barangsiapa mengisi celah dalam shaf sholat berjama’ah, maka diampuni Allah dosa-dosanya”. (HR. Al Bazar, Hasan Shohih, Majmu’ Azzawaid, Jilid II, Halaman 251).

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyambung shaf maka Allah akan menyambung hubungan kasih sayang kepadanya dan barangsiapa memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” (HR. Abu Dawud)

Di dalam hadis lain lagi dari Abdullah bin Umar dia berkata Rasulullah telah bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling lembut bahunya dalam sholat berjamaah. Dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya dari pada langkah yang diayunkan seorang lelaki menuju celah yang terdapat pada sebuah shaf,  kemudian orang itu menutup celah tersebut” (HR. Al Bazar dan Thabrani, Hasan)

Hadis di atas menjelaskan betapa dalam sholat berjama’ah umat Islam diperintahkan oleh nabi untuk melembutkan bahunya, bukan sebaliknya malah mengeraskan bahu dan mengokohkan kaki lebar-lebar seperti robot besi yang kaku. Hadis di atas juga menjelaskan boleh melangkah sedikit untuk menutup celah yang muncul dalam shaf sholat berjamaah. Imam Syafi’i masih mengizinkan menggerakkan anggota tubuh yang besar asal jangan sampai tiga kali berturut-turut. Menggerakkan dengan sengaja anggota tubuh yang besar tiga kali berturut-turut dapat membatalkan sholat.

Adapun orang yang batal wudhu’ dan sholatnya karena berhadas kecil ketika sedang mengerjakan sholat berjamaah, disunatkan duduk pada tempat sholatnya dan tidak menerjang shaf-shaf kaum muslimin, yang sedang berjama’ah bersamanya. Orang itu tidak dihitung memutuskan shaf walau terhenti dari sholatnya dan duduk di tempat sholatnya itu, sementara jama’ah lain terus menyelesaikan sholat mereka. Alam hal ini, seolah-olah orang yang batal sholatnya itu dianggap sebagai tiang dalam masjid tersebut. Bagaimanapun seorang muslim yang berhadas kecil tidaklah najis keberadaannya.

Selanjutnya jika sholat berjama’ah telah selesai dilaksanakan, maka orang yang berhadas itu dapat segera berwudhu’ lagi, untuk kemudian mengulangi sholatnya yang batal tadi secara sendirian. Adapun pahala yang akan diterimanya tetap sebesar 27 derajat karena dia dianggap tetap dalam jamaah, walaupun pada kenyataannya dia terluput dari sholat jama’ahnya sebab hadas kecil yang menerpa dirinya itu. Hal ini telah pun ditegaskan oleh nabi dalam beberapa hadis yang shohih.

Wallahu a’lam bishawab

 

sumber  : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/sorban/fiqih/101/merapikan-shaf-dalam-shalat-berjamaah.html

Baca entri selengkapnya »